Apakah Ulama itu...?

Posted by Noer Rachman Hamidi


Al-Quran menyebut ulama' (para sarjana, ilmuwan, intelektual, cendekiawan) dengan istilah lain sebagai ulu al-albab (orang-orang yang berakal). Al-Quran menyebutnya dalam 16 ayat (QS al-Baqarah: 179, 197 dan 269; Ali Imran: 7 dan 190; al-Maidah: 100; Yusuf: 111; ar-Ra'd: 19; Ibrahim: 52; Shad: 29 dan 43; az-Zumar: 9, 18, dan 21; Ghafir: 53; dan ath-Thalaq: 10).

Menurut Sayyid Quthb dalam Fi Zhilal al-Qur'an, juz 2, hlm. 32, ketika menafsirkan Surah Ali Imran, ayat 190-191, manusia ulul albab selalu tafakkur (memikirkan) tentang penciptaan langit dan bumi, tadabbur (merenungkan terjadinya silih bergantinya siang dan malam, belajar dari kitab al-kawn al-maftuh (buku alam terbuka). 

Fitrah mereka menyambut kebenaran yang terkandung di dalamnya, selalu tawajjuh (menghadap) kepada Allah dengan shalat penuh khusyu. Lebih dari itu, manusia ulul albab tidak sekedar tafakkur, tadabbur, dan tawajjuh kepada Allah dengan khusyu, tapi mereka melanjutkan dengan al-'amal al-ijabi (karya positif) yang timbul dari proses belajar itu. Itulah karya yang dikategorikan sebagai ibadah seperti halnya ibadah dalam tafakkur, tadabbur, dan tawajjuh. 

Bahkan karya tersebut dikategorikan sebagai al-tsamrah al-waqi'iyyah  (hasil nyata) dari ibadah itu yang diterima oleh semua tanpa membedakan jenis kelamin, laki-laki perempuan, suku dan bangsa. Semua sama dalam kemanusiaan dan sama dalam timbangan.

Manusia ulul albab adalah para ulama yang diberikan kelebihan oleh Allah berupa al-hikmah (kebijaksanaan dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang dikuasai). Allah berfirman: "Allah menganugerahkan al-hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran melainkan ulul alb├ób." (QS al-Baqarah: 269). Mereka adalah manusia yang memadukan kekuatan taqwa dan ilmu pengetahuan (QS al-Baqarah: 179 dan 197).

Manusia ulul albab adalah mereka yang mampu mengambil pelajaran dari sejarah umat manusia, baik dan buruknya. Allah berfirman: "Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi ulul albab. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (QS Yusuf: 111).

Manusia ulul albab bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, meyakini luasnya ilmu Allah, dan mereka berusaha keras mengambil pelajaran dari setiap ilmu yang dikuasai guna kebaikan lingkungannya. (QS Ali Imran: 7). 

Semua kejadian yang disaksikan, lalu dipelajari, dan dipikirkan (tafakkur) untuk mendapatkan ilmu baru. "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulul albab." (QS Ali Imran: 190).

Manusia ulul albab selalu memiliki kesadaran (dzikr) kepada Allah dalam kondisi apapun; ketika berdiri, duduk, berbaring, atau dalam kondisi apapun lalu tafakkur (memikirkan) tentang penciptaan langit dan bumi. "Mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.'" (QS Ali Imran: 191). 

Mereka selalu beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, takut kepada siksa akhirat dan selalu mengharapkan rahmah Allah. "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya ulul albab yang dapat menerima pelajaran." (QS az-Zumar: 9).

Tafakkur adalah memikirkan ciptaan Allah yang ada di langit dan di bumi, mempelajari sunnah Allah (hukum-hukum Allah) yang terdapat pada alam, sehingga menghasilkan science (ilmu pengetahuan). 

Dzikr adalah upaya tadabbur (merenung) dalam rangka memanfaatkan science (ilmu pengetahuan) agar sejalan dengan al-shirath al-mustaqim (jalan lurus) yang dikehendaki Allah. Maka tercipta teknologi ramah lingkungan menuju kemajuan peradaban umat manusia, bukan teknologi destruktif yang menghancurkan.

Manusia ulul albab selalu takut kepada Allah, mampu membedakan mana yang  baik dan mana yang buruk, mana yang hak dan mana yang batil, meski keburukan dan kebatilan itu sangat menggiurkan. (QS al-Maidah: 100). 

Mereka berani menentang thaghut (para pemimpin tiran) dan tidak takut kepada siapa pun. Mereka hanya takut kepada Allah. Mereka mau mendengarkan berbagai perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. (QS az-Zumar: 17-18).

Manusia ulul albab adalah orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, mempererat silaturahim, takut kepada Allah, sabar, dalam mendapatkan ridha Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan rezeki Allah secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan. (QS ar-Ra'd: 19-22).

Semoga kita mampu meraih gelar mulia sebagai ulul albab agar umat dan bangsa terhindar dari krisis yang berkepanjangan akibat cahaya iman, ilmu, dan amal sudah tidak lagi bersinar terang. Kita harus pancarkan kembali sinar itu untuk menerangi kegelapan, keterpurukan, dan kehancuran. Aamiin YRA.
Wallahu a`lam bish shawab. 

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:
coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas -

Description: Apakah Ulama itu...?
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Apakah Ulama itu...?
SelengkapnyaApakah Ulama itu...?

Komposisi Pakan, Pangan dan Energi menurut Ayat-AyatNYA

Posted by Noer Rachman Hamidi

Amerika Serikat menggunakan produksi jagungnya untuk menutupi kebutuhan energi dengan memprosesnya menjadi bio-ethanol, negeri tetangganya Meksiko mengalami krisis pangan sampai terjadi huru-hara tortilla. Ketika China menyedot habis produksi kedelai dunia untuk mengejar kebutuhan pakan ternaknya, rakyat Indonesia nyaris tidak bisa membeli kedelai sebagai sumber protein makanan khas tahu-tempenya. Manusia modern ternyata serba gamang dalam memenuhi keseimbangan kebutuhan pakan, pangan dan energinya. Lantas siapa yang bisa menjaga keseimbangan ini ?

Yang bisa hanyalah manusia yang membenarkan, meyakini dan kemudian menggunakan petunjukNya dalam mengelola bumi dan langit seisinya yang telah ditundukkanNya untuk kepentingan manusia.

Untuk keseimbangan tiga kebutuhan pakan , pangan dan energi misalnya, ayat-ayatNya jelas mengindikasikan alokasinya masing-masing. Sebagiannya ada yang berhimpitan antara pakan dan pangan atau antara pangan dan energi, tetapi secara keseluruhan proporsinya nampak jelas.

Gambaran umum tentang mana-mana tanaman yang untuk pakan, pangan dan energi dapat diilustrasikan dalam grafik spectrum di bawah.
Spektrum Pakan, Pangan dan Energi
Rerumputan misalnya jelas untuk pakan ternak, tetapi biji-bijian bisa untuk pakan ternak dan lebih banyaknya untuk manusia. Buah-buahan umumnya untuk pangan manusia, tetapi bisa juga dalam jumlah yang lebih sedikit untuk energi. Kurma umumnya untuk pangan manusia, bila berlebih bisa untuk produksi bio-ethanol. Zaitun untuk pangan manusia, bila berlebih bisa untuk bio-diesel. Kayu atau cellulose pohon untuk energi baik digunakan langsung atau diambil produk turunannya seperti bio-ethanol.
Komposisi Ayat Tentang Pakan Pangan dan Energi
Bila kita gunakan jumlah penyebutan dalam ayat-ayat tersebut di atas untuk menggambarkan komposisi tanaman atau hasil tanaman yang digunakan untuk pakan, pangan dan energi, maka akan dihasilkan alokasi kurang lebih seperti dalam ilustrasi garfik disamping.

Mayoritas tanaman untuk pangan manusia, kemudian dalam jumlah yang hampir sama untuk ternak  dan dalam jumlah yang lebih kecil untuk energi. Ternak dan energi tentu akhirnya juga untuk manusia sebagaimana firmanNya bahwa : "…Sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. …" (QS 31:20).

Menariknya adalah agar pangan manusia tidak berebut dengan pakan ternak, maka ternak yang pakannya sejenis pangan manusia – yaitu  unggas yang memakan biji-bijian atau padi-padian – komposisinya dalam pemenuhan protein hewani diindikasikan jauh lebih kecil ketimbang ternak besar (berkaki empat) yang pakannya tidak harus berebut dengan manusia.

Untuk pakan hewan ternak besar – meskipun bisa saja diberi pakan dari biji-bijian atau padi-padian - petunjukNya jelas berupa hijauan atau rerumputan, dan lebih khusus lagi dengan menggembalakannya di antara tanaman pepohonan dan segala macam buah-buahan (QS 80:24-32 ; QS 16:10-11).

Sumber protein hewani lainnya yang kedua terbesar untuk manusia adalah dari jenis ikan – yang pada umumnya juga tidak berebut sumber pakannya dengan manusia. Sumber protein hewani yang satu ini tersedia melimpah di laut, tinggal manusianya mampu mengelolanya atau tidak.
Komposisi Ayat Tentang Sumber Protein Hewani
Maka komposisi sumber protein hewani untuk manusia bila menggunakan jumlah penyebutan dalam ayat-ayatNya - untuk menggambarkan tingkat kepentingannya  - akan menjadi seperti grafik di samping.

Sumber protein dari ternak besar terungkap dalam  setidaknya 7 ayat atau 64%, dari ikan terungkap dalam 3 ayat atau 27 % dan dari unggas terungkap dalam 1 ayat atau 9%.

Dengan indikasi-indikasi tersebut maka arah pemenuhan kebutuhan manusia yang seimbang dengan daya dukung alam itu menjadi jelas. Untuk kebutuhan protein prioritasnya adalah dari ternak besar – khususnya yang digembalakan, karena selain menghasilkan protein yang murah – juga menyuburkan lahan-lahan untuk berbagai kebutuhan manusia lainnya.

Prioritas kedua adalah dari ikan – khususnya ikan laut, karena sumbernya yang melimpah dan pakannya tidak berebut dengan pangan manusia. Baru yang terakhir sejumlah yang terbatas dari unggas – yang karena pakannya bisa berebut sumber dengan pangan manusia – maka jenis protein hewani yang terakhir ini seharusnya tidak terlalu banyak.

Kajian ini tentu saja baru berupa pancingan awal, para ahli di segala bidangnya masing-masing silahkan mendalaminya. Tetapi intinya yang ingin kita sampaikan  adalah bahwa petunjukNya itu jelas dan akan menjadi pembeda – antara yang mendapat/menggunakan petunjukNya dengan yang tidak (QS 2:185), dan petunjukNya itu menjadi jawaban untuk segala macam persoalan (QS 16:89) – termasuk dalam hal keseimbangan pemenuhan tiga kebutuhan yaitu pakan, pangan dan energi ini, InsyaAllah.

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:
coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas -

Description: Komposisi Pakan, Pangan dan Energi menurut Ayat-AyatNYA
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Komposisi Pakan, Pangan dan Energi menurut Ayat-AyatNYA
SelengkapnyaKomposisi Pakan, Pangan dan Energi menurut Ayat-AyatNYA

Ternyata kekuatan suatu Negeri ada di Desa.

Posted by Noer Rachman Hamidi


Sekitar 10 tahun lalu negeri dingin Iceland – negeri nelayan yang penduduknya hanya sekitar 300,000 jiwa tiba-tiba berubah menjadi industri keuangan yang luar biasa. Bank-bank dan industri keuangan non-banknya ujug-ujug tumbuh pesat, sehingga untuk memenuhi kebutuhan tenaga professional keuangan-nya para nelayan-pun tiba-tiba pada beralih profesi menjadi ahli keuangan. Tetapi ini tidak berlangsung lama, setelah 5 tahun berlalu mereka terpaksa kembali menekuni pekerjaan lamanya sebagi nelayan.

Krisis financial global 2008 mengakhiri mimpi Iceland untuk menjadi negeri financial berskala dunia, saat berakhir itu negeri tersebut bangkrut secara teknis dengan total hutang sekitar 8.5 kali GDP-nya. Apa yang sebenarnya terjadi ?

Michael Lewis – seorang penulis buku-buku keuangan best seller menggambarkan kehancuran industri keuangan dadakan Iceland dengan cara yang mudah dipahami oleh orang awam sekalipun. Terjemahan bebasnya kurang lebih begini : "Anda punya seekor kucing dan saya memiliki seekor anjing, berdua kita sepakat harga kucing Anda adalah US$ 1 Milyar dan demikian pula harga Anjing saya juga US$ 1 Milyar. Saya beli kucing Anda US$ 1 Milyar, Anda beli Anjing saya US$ 1 Milyar. Berdua kini kita memiliki aset masing-masing US$ 1 Milyar".

Demikianlah bank dan industri keuangan mereka menggelembungkan asetnya dari awang-awang, tanpa didukung aset riil yang memiliki nilai atau potensi pendapatan yang sesungguhnya. Ketika masanya salah satu dari mereka terpaksa harus melikwidasi asetnya – karena krisis, tentu saja aset yang mereka miliki tidak seberapa nilainya – lha wong asalnya hanya 'kucing dan anjing' ! Begitu yang satu bangkrut karena ketahuan liability-nya melebihi asset-nya, maka effect domino-pun terjadi dan seluruh industri keuangan Iceland collapse. Para professional keuangan-nya-pun harus kembali ke profesi para nenek-moyang mereka yaitu menjadi nelayan dengan mencari ikan di laut Norwegia !

Pola bangkit dan bangkrutnya Iceland sebenarnya adalah model bagi industri keuangan dunia secara keseluruhan. Bedanya adalah negara-negara lain umumnya jauh lebih besar dari Iceland – sehingga lebih kuat bertahan ketika dihantam krisis. Namun mampu bertahan tidak berarti mampu mempertahankan kemakmuran yang sesungguhnya. Aset-aset berupa kertas yang membubung tinggi jauh melebihi aset riil – pasti suatu saat membawa korban. Pertanyaannya adalah siapa korban yang sesungguhnya ?

Ya Anda-Anda yang mengandalkan asset keuangan berupa deposito, reksadana, dana pensiun, asuransi dlsb. Bukan berarti pengelola dana-dana Anda tersebut akan bangkrut, tetapi karena efek lingkaran setan penggelembungan aset seperti dalam transaksi kucing dan anjing tersebut diatas – akan berdampak pada nilai atau daya beli riil dari aset-aset kertas Anda.

Itulah sebabnya sekitar 9 dari 10 pekerja tidak siap ketika masa pensiun tiba, karena tabungan hasil jerih payahnya bekerja selama puluhan tahun tergerus nilainya secara gradual oleh inflasi – dan dari waktu ke waktu dipercepat turunnya secara drastis dengan krisis demi krisis seperti yang kita alami di tahun 1997-1998 dan di alami dunia antara 2008-2010 yang membawa korban antara lain Iceland tersebut di atas.

Lantas bagaimana kita bisa melepaskan diri dari proses wealth destruction (penghancuran kemakmuran ) ini ? Sama juga dengan yang dialami oleh para nelayan Iceland yang sempat menjadi para ahli keuangan, yaitu kembali menekuni profesi nenek moyang kita. Bagi kita yang tidak terbiasa ke laut, ya kembali ke desa dengan bertani, berkebun, beternak dlsb.

Mengapa ke desa ? Karena di desa aset umumnya berupa aset riil yang nilainya intrinsik, kambing ya seharga kambing, kebun ya seharga kebun. Tidak ada krisis yang bisa menghancurkan nilai aset di desa-desa. Selain aset riil bernilai intrinsik, aset-aset ini juga memberikan hasil yang nyata untuk memenuhi kebutuhan utama kita – tanpa harus menurunkan nilai aset itu sendiri. Jadi aset-aset tersebut benar-benar secara produktif bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita, sementara nilai asetnya sendiri juga tumbuh.

Bila demikian unggul aset-aset di desa, mengapa mereka rata-rata  terkesan miskin ?

Pertama  sebenarnya mereka tidak (lebih) miskin. Bisa jadi mereka tidak memiliki uang (aset berupa kertas) tetapi aset riil rata-rata mereka punya. Rasio kepemilikan rumah misalnya jauh lebih tinggi di desa ketimbang masyarakat perkotaan.

Kedua karena brain drain dari desa ke kota, orang-orang yang pinter yang seharusnya bisa membangun desa pada rame-rame ke kota. Desanya tidak terbangun, sementara di kota terjadi persaingan yang sangat ketat sehingga juga hanya sedikit yang bisa bener-bener sukses.

Lebih dari itu, solusi dari masalah-masalah perkotaan kita kini bisa jadi justru adanya di desa Sekarang harga daging sapi sangat mahal dan supply-nyapun harus diimpor, demikian pula dengan bawang dan cabe. Bukankah ini bisa diatasi bila desa-desa kita beternak dan bertani komoditi-komoditi utama dengan cukup ?

Kemacetan yang semakin menjadi-jadi di hampir seluruh kota besar di Indonesia, bukankah akan teratasi dengan sendirinya bila terjadi arus balik orang kembali ke desa ? Bisa jadi selama ini kita mencari solusi di tempat yang salah, solusi berbasis kapitalisme dan impor – yang dalam jangka panjang justru bisa menyengsarakan rakyat sendiri. Padahal solusi yang sesungguhnya itu ada di depan mata kita, berupa petunjuk Ilahi dan potensi yang ada di desa-desa kita sendiri.
Wallahu A'lam.

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:
coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas -

Description: Ternyata kekuatan suatu Negeri ada di Desa.
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Ternyata kekuatan suatu Negeri ada di Desa.
SelengkapnyaTernyata kekuatan suatu Negeri ada di Desa.

Kemandirian Kebutuhan Minyak (dan Energi..?)

Posted by Noer Rachman Hamidi


Di antara sekian banyak tanaman yang ada di dunia, ada satu jenis tanaman yang keberkahannya secara eksplisit disebutkan di Al-Qur’an yaitu pohon zaitun.

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS 24:35).

Selama ini kita berasumsi bahwa zaitun ini adalah tanaman negeri-negeri Arab  dan Mediterania – karena produksi terbesar zaitun dunia memang di Mediterania – yaitu Spanyol dengan luas tanam sampai 2.33 juta hektar dengan produksi sekitar 6.94 juta ton per tahun.

Mungkinkah negeri kita ini menjadi produsen besar zaitun dunia ?

Kemungkinan itu tentu selalu ada, hanya yang diperlukan adalah pikiran terbuka kita untuk mau belajar, berusaha dan terus mencoba sesuatu yang berbeda – sambil tentu saja memohon pada Yang Maha Pencipta untuk memudahkan jalan kita. Hanya Dia yang bisa menumbuhkan segala jenis pepohonan itu sebagaimana firmanNya :

“Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).” (QS 27:60).

Maka jelas bila Allah berkehendak – pohon zaitun-pun akan bisa tumbuh sebaik-baiknya di negeri kita ini. Ini dari tataran Ilahiahnya, sekarang bagaimana dari tataran ikhtiari manusianya ?

Pertama dari statistik pohon-pohon yang paling banyak ditanam manusia di dunia. Zaitun menduduki nomor 3 pohon terbanyak ditanam di dunia setelah kelapa dan sawit. Menariknya adalah di dua jenis pohon yang lebih banyak dari zaitun tersebut, Indonesia berada di urutan no 2 untuk kelapa (setelah Philippine)  dan nomor 1 untuk sawit (di atas Malaysia).

Luas tanaman sawit Indonesia saat ini lebih dari dua kalinya luas tanaman zaitun di Spanyol – yang merupakan penghasil zaitun terbesar dunia. Artinya dari ketersediaan lahan, mestinya sangat cukup bagi kita untuk bisa menanam zaitun secara masif dalam jumlah yang sangat besar – seperti ketika kita menanam sawit.

Sama-sama penghasil minyak, tetapi yang satu (zaitun) disebut keberkahannya secara spesifik di Al-Qur’an – mengapa tidak ini yang kita pilih ? Apakah tanaman ini cocok ditanam di tanah kita ? pertama dahulu sawit juga bukan tanaman asli kita, awalnya dibawa penjajah Belanda konon hanya 3 atau 4 benih dari Afrika Barat. Lihat kini Indonesia menjadi produsen sawit terbesar di dunia.

Kedua dari sisi geografis, zaitun tumbuh terbaik di daerah daerah subur yang beriklim panas. Kurang apa banyaknya daerah subur yang kita miliki ? dan kurang panas apa sekarang suhu rata-rata kita ? Tetapi mengapa kita menganggap penting zaitun ini ?
  • Pertama tentu karena keberkahannya yang disebutkan di Al-Qur’an tersebut di atas.
  • Kedua karena keberkahan tersebut juga terbukti secara ilmiah. Bila minyak sawit banyak diperdebatkan dampaknya pada kesehatan misalnya,  minyak zaitun sebaliknya begitu banyak diberitakan manfaatnya.
Dengan begitu banyaknya bukti ilmiah yang menunjang minyak zaitun ini, sejak sekitar sepuluh tahun lalu di Amerika bahkan minyak zaitun boleh dilabeli sebagai minyak kesehatan. Diantara yang terbukti secara ilmiah itu adalah menurunkan kolesterol, menurunkan resiko penyakit cardiovascular, menurunkan tekanan darah, meningkatkan keperkasaan seksual, mengurangi resiko penyakit saluran pernafasan, anticancer, antiseptic dan antimicrobial.

Dengan mengungkapkan kelebihan minyak zaitun tersebut, tidak berarti juga serta merta kita gantikan lahan-lahan sawit dengan zaitun – meskipun nantinya bisa jadi para pemilik lahan sawit akan hijrah ke zaitun dengan sendirinya bila mengetahui nilai ekonomisnya yang juga luar biasa.

Tetapi saya lebih tertarik untuk mengarahkan pohon zaitun ini sebagai tanaman rakyat, agar sebanyaknya rakyat nantinya bisa menanam dua pohon zaitun dari jenis yang berbeda di halaman rumah-rumahnya. Perlu dua jenis karena pohon zaitun memberi hasil maksimal bila bisa terjadi polinasi dari dua jenis yang berbeda, disamping juga meminimasi penjalaran penyakit.

Pohon zaitun bisa dibudi dayakan-oleh rakyat karena bahkan untuk mengolah sampai menjadi minyakpun tidak harus membutuhkan industri, seperti di negeri Jordania (saya sempat membeli minyak zaitun produksi rumah tangga dalam perjalanan ke Al Aqsa). Dengan peralatan dapur yang seadanya, Anda bisa membuat minyak zaitun terbaik Anda sendiri – yaitu yang disebut EVOO (Extra Virgin Olive Oil).

 

Saya membayangkan suatu saat rakyat negeri ini tidak perlu pusing oleh mahalnya minyak goreng, kelangkaan minyak tanah dlsb. Semua bisa diproduksi sendiri dari halaman rumahnya. Memang perlu waktu untuk sampai ke sana, tetapi kalau kita mulai sekarang – insyaAllah generasi anak cucu kita akan bisa mandiri dari sisi minyak yang sehat ini. Suatu saat kita akan bisa makan goreng-gorengan yang murah, enak dan sehat karena minyaknya kita buat sendiri dari jenis minyak yang terbukti aman dan bahkan menunjang kesehatan tersebut.

Kandungan lemak buah zaitun sekitar 15.3 % , jadi cukup tinggi rendemen setiap buahnya yang bisa menjadi minyak. Produktifitas hasil buah zaitun per pohon juga bisa sangat tinggi. Ketika di awal masa berbuah mulai dari sekitar 10 kg/ pohon ; ketika pohon terus membesar hasilnya untuk jenis zaitun tertentu bisa mencapai 1 ton/ pohon.

Bentuk keberkahan lain dari phon zaitun adalah usianya yang bisa sangat panjang, salah satu pohon zaitun di Athena dimana Plato dahulu bernaung untuk mendirikan Plato Academy-nya – konon hingga kini pohon tersebut masih hidup – berarti 2400-an tahun sudah usianya.

Lantas bagaimana kita bisa mulai menanam pohon keberkahan yang usianya bisa sampai ribuan tahun ini ? Mulai dari yang kita bisa, mulai dari yang kita ada. Tidak terbatas pada knowledge tetapi juga benih dan bahkan pelatihannya untuk membangun skills yang dibutuhkan.

Jadi selain kurma, untuk anggur kini kami juga sudah memiliki jalur perolehan benih dan pelatihannya untuk membangun ketrampilan berkebun anggur.

Untuk zaitun sendiri, ada sahabat saya yang tidak sengaja menyimpan zaitun terbaik yang dibawanya langsung dari tanah Syam – yang secara spesifik disebut keberkahannya dalam ayat Al-Qur’an tersebut di atas.

Dari buah segar zaitun yang dibawa langsung dari negeri Syam oleh tangan pertama inilah nantinya mudah-mudahan zaitun bisa tumbuh dan berkembang di negeri yang subur ijo royo-royo ini. Seperti juga sawit, bisa jadi dunia menunggu kita di negeri ini untuk memproduksi secara masal kurma, anggur dan zaitun ini – tiga jenis tanaman yang paling banyak disebut dan disandingkan di Al-Qur’an.

Mengapa nunggu kita ?, karena di negeri inilah lahan-lahan subur dalam skala sangat luas itu tersedia. Di negeri inilah ratusan juta  muslim tinggal, jutaan diantaranya rajin membaca Al-Qur’an, puluhan ribu diantaranya bahkan hafal Al-Qur’an – dan diantara mereka ini pastinya banyak yang sangat menguasai tafsir ayat-ayatNya dengan sangat baik.

Bila penjajah Belanda yang tidak membaca Al-Qur’an saja bisa membuat rintisan yang kemudian menjadikan Indonesia produsen sawit terbesar di dunia ?, mengapa tidak kita untuk membuat rintisan agar kurma, anggur dan Sambil terus berusaha membenihkan biji-biji dari buah zaitun segar yang dibawa langsung dari tanah Syam tersebut, kita perlu terus berdo’a memohon pertolonganNya – karena hanya dia-lah yang sanggup menghidupkan tanaman dari biji-bijian tersebut.

“Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” (QS 6:95).

InsyaAllah kami siap berbagi know-how dan skills  pada waktunya setelah eksperimen-eksperimen ini berhasil. Amin YRA.

www.agribisnis-indonesia.com
Rumah Hikmah, www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Description: Kemandirian Kebutuhan Minyak (dan Energi..?)
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Kemandirian Kebutuhan Minyak (dan Energi..?)
SelengkapnyaKemandirian Kebutuhan Minyak (dan Energi..?)

Semangat meng-Antisipasi Krisis

Posted by Noer Rachman Hamidi


Beberapa hari pasca Tsunami Aceh Desember 2004, kita menyaksikan antrian panjang orang-orang dari berbagai kalangan yang hendak terbang dengan pesawat Hercules di Halim Perdana Kusumah. Di Aceh sendiri listrik masih gelap dan bau mayat masih menyengat, tetapi ribuan orang dari berbagai profesi datang dari berbagai penjuru negeri – demi membantu anak negeri yang lagi berduka waktu itu.

Bisakah semangat dan keikhlasan para sukarelawan ini ditularkan untuk situasi lain ? Bukan hanya di Aceh, saya melihat semangat kerja dan keikhlasan yang sama ketika terjadi gempa di Jogja dan sekitarnya dua tahun kemudian,  juga musibah letusan gunung Merapi beberapa tahun kemudian.

Bahkan kita juga melihat kedasyatan etos kerja para sukarelawan yang peduli pada problem saudara-saudara kita yang jauh seperti  di Ghaza, Syria dlsb. Intinya adalah di setiap musibah, Alhamdulillah masyarakat kita bisa tergerak untuk bekerja dengan penuh semangat dan keikhlasan – demi membantu saudara-saudara kita yang lagi berduka. Semuanya insyaAllah baik, olehkarenanyalah semangat dan keikhlasan para sukarelawan tersebut perlu di ‘export’ untuk jenis pekerjaan lainnya.

Bila dalam setiap musibah kerja keras dan ikhlas bukan untuk diri sendiri itu mudah untuk dibangkitkan, bisakah kerja keras dan ikhlas yang reaktif terhadap bencana yang sudah terjadi ini ditularkan menjadi kerja keras dan ikhlas yang proaktif terhadap bencana yang belum muncul ? Bencana yang baru berupa ancaman atau bencana yang di-antisipasi ? Harusnya bisa, bila kita bisa membangkitkan kepedulian yang sama – senses of crisis yang sama antara musibah atau bencana yang sudah terjadi dengan bencana yang baru bersifat ancaman atau bencana yang bisa diantisipasi.

Tetapi bagaimana kita bisa mengatisipasi bencana ini ? dalam kisah Nabi Yusuf ‘Alaihi Salam kita bisa belajar bagaimana kita mengantisipasi musibah (kelaparan) itu dan bagaimana kita berbuat mencegahnya.

Di jaman ini ilmu pengetahuan dan teknologi informasi juga bisa sangat berguna untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terjadinya bencana itu. Tanpa mengarti kecilkan musibah-musibah sebelumnya, krisis FEW (Food, Energy and Water) kedepan bisa menelan korban yang lebih banyak dari musibah-musibah tsunami, gempa bumi maupun letusan gunung berapi.

Bila prediksi McKinsey benar bahwa 17 tahun dari sekarang akan ada 25 juta orang Indonesia yang kesulitan untuk memperoleh air bersih, bisa dibayangkan besarnya korban jiwa yang ditimbulkan oleh krisis air ini saja.

Bila prediksi para ahli energi bahwa minyak kita akan habis dalam 10 tahun mendatang dan gas-pun akan habis dalam 30 tahun – bisa dibayangkan krisis energi saat itu dampaknya bagi rakyat kebanyakan. Krisis energi berdampak langsung pada keterjangkauan kebutuhan pokok – karena energi menjadi komponen utama dalam struktur biaya produksi dan transportasinya. Krisis energi, pasti berdampak pada krisis kebutuhan pokok lainnya.

Yang paling langsung dampaknya adalah krisis pangan, sebagai contoh kedelai yang selama ini menjadi komponen protein yang relatif terjangkau oleh masyarakat kita – kinipun mulai bergerak menjauh dari jangkauan rakyat kebanyakan. Krisis kedelai bisa menjadi model pembelajaran bagi krisis bahan pangan lainnya. Mengapa kedelai yang semula terjangkau, kini menjadi semakin tidak terjangkau ? jawabannya sederhana yaitu karena kita tidak mampu memproduksinya sendiri secara cukup.

Ketika kita harus berebut kedelai dari pasar internasional, dua masalah besar akan terus menghantui kita. Pertama adalah daya beli uang kita terhadap kedelai yang harus diimpor ini – bila daya beli uang kita cenderung menurun, maka harga kedelai pastinya akan cenderung terus melonjak – dan semakin tidak terjangkau oleh rakyat. Kedua adalah masalah supply-nya sendiri, China dengan jumlah penduduk 1.4 milyar sebenarnya hanya sekitar 5.5 kali jumlah penduduk kita yang mendekati 250 juta.

Tetapi menurut Index Mundi, tahun ini China akan mengambil supply kedelai dunia 33 kali lebih banyak dibandingkan dengan yang diambil Indonesia. China akan mengimpor sekitar 69 juta ton kedelai atau 66% supply pasar, sedangkan Indonesia ‘hanya’ akan mampu mengambil 2.1 juta ton kedelai dari pasar internasional atau hanya 2 % dari supply pasar. Mengapa China membutuhkan begitu banyak kedelai, seolah tidak proporsional dengan jumlah penduduknya ?, karena selain untuk kebutuhan pangan manusia langsung – kedelai juga digunakan untuk bahan pakan ternak di negeri itu.

Bahwa bahan pangan diperebutkan antar manusia di dunia yang semakin banyak, dan bukan hanya diperebutkan sesama manusia – tetapi juga dengan ternak mereka – inilah yang akan membuat ancaman krisis pangan itu akan semakin nyata kedepan. Tetapi ancaman krisis tidak harus menjadi kenyataan bila kita bisa bertindak benar pada waktu yang tepat. Ancaman krisis FEW yang bisa menelan korban lebih banyak dari tsunami, gempa bumi dan letusan gunung berapi – insyaallah bisa dicegah – bila bisa dibangun kesadaran akan adanya potensi musibah ini, kemudian juga digerakkan aksi-aksi kerja keras dan ikhlas sebagaimana ditunjukkan oleh masyarakat negeri ini di setiap kali menghadapi musibah.

Lantas konkretnya apa yang bisa kita lakukan ? dari sinilah munculnya gagasan untuk melahirkan suatu generasi yang mau berjihad – yaitu para sukarelawan yang proaktif men-antisipasi bencana dengan menggunakan petunjukNya dan segala kemampuan profesional agar ancaman atau potensi musibah itu tidak menjadi kenyataan.

Awalnya kita akan menggarap ancaman atau potensi musibah yang ditimbulkan oleh krisis tiga kebutuhan pokok yaitu FEW (Food, Energy and Water), maka silahkan para professional yang terkait dengan bidang-bidang ini bila mau bergabung lebih dahulu menjadi para sukarelawan professional di komunitas ini.

Bayangkan bila para professional pertanian/pangan, professional energi baru dan terbarukan dan professional pengelolaan air bisa dan mau bekerja keras dan ikhlas seperti para sukarelawan-sukarelawan tsunami, gempa bumi dan letusan gunung berapi – insyaAllah akan segera muncul solusi untuk antisipasi ancaman atau potensi musibah-musibah yang terkait FEW tersebut. InsyaAllah.

www.agribisnis-indonesia.com
Rumah Hikmah, www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Bisnis:

Info Keuangan:


Description: Semangat meng-Antisipasi Krisis
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Semangat meng-Antisipasi Krisis
SelengkapnyaSemangat meng-Antisipasi Krisis

Food, Energy & Water ( FEW )

Posted by Noer Rachman Hamidi

Potensi kurma bisa menjadi solusi pangan dan pencegahan kelaparan dunia, begitu banyak sumber yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya – hingga tidak akan cukup bila ditulis semuanya di sini. Maka beberapa poin yang penting untuk diketahui masyarakat umum akan saya tulis lebih dahulu. Setelah tulisan sebelumnya tentang Menjadikan PetunjukNya (Al Quran) sebagai Panglima , tulisan kali ini adalah tentang bagaimana kurma bisa memberi solusi bukan hanya terhadap masalah pangan tetapi solusi pada tiga kebutuhan pokok bagi manusia sekaligus yaitu Food, Energy & Water (FEW).

Bahwasanya kurma bisa memberikan solusi pangan (Food) itu sudah sangat jelas, kandungan gizinya dlsb. yang bersifat detail akan saya tulis pada waktunya. Tetapi sebagai gambaran umum dari sisi nilai ekonomi, kemampuan kurma dalam memberikan solusi pangan ini relatif terhadap bahan pangan pokok lainnya dapat dilihat secara langsung dari perbandingan hasil per luasan lahan di samping.

Food, Water & Energy ( FEW )
Food, Water & Energy ( FEW )
Tabel tersebut adalah data yang dikumpulkan oleh Bapak Agus S Djamil. Jelas di sini bahwa kurma adalah produk pangan yang paling efisien di muka bumi.

Yang tidak bisa dibandingkan secara langsung sangat banyak. Misalnya dari sisi penghematan energi. Ketika makanan kita berasal dari beras, gandum dlsb. diperlukan begitu banyak energi mulai dari penanganan pasca panennya sampai pengolahannya di tingkat rumah tangga.

Dari tahun ketahun siapapun yang memimpin negeri ini pusing tujuh keliling memikirkan subsidi energi untuk rumah tangga. Apakah itu minyak tanah dahulu ataupun gas LPG 3 kg-an kini. Untuk apa ini semua ?, agar ibu-ibu bisa memasak makanannya sehari rata-rata tiga kali.

Bayangkan kalau sebagian saja dari makanan kita itu digantikan dengan kurma ? penurunan konsumsi energi rumah tangga akan sangat besar bagi negeri ini. Penurunan subsidi ini kemudian bisa dipakai untuk kegiatan lainnya yang tidak kalah pentingnya seperti memberikan layanan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat, peningkatan kwalitas SDM dlsb.

Kontribusi kurma dari sisi energi bukan hanya pada penghematannya saja, tetapi juga pada supply-nya. Sumber energi dari pohon yang diindikasikan di dua ayat (QS 36 :80 dan  QS 56 : 71-72) itu sejalan dengan ilmu pengetahuan modern yang menyimpulkan energi (bio ethanol misalnya) bisa dihasilkan dari tanaman apapun yang mengandung salah satu dari tiga unsur yaitu serat, pati atau gula. Pohon kurma dapat menghasilkan ketiganya sekaligus !

Yang kemudian juga tidak kalah menariknya adalah kontribusi tanaman kurma dalam penghematan dan konservasi air baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Perhatikan apa yang kita makan sehari-hari, dari memasak nasi, membuat roti, sayur lodeh, rendang dlsb. betapa banyak air yang harus kita gunakan untuk memproduksi makanan kita.  Lagi-lagi kebutuhan air untuk memproses makanan ini menjadi tidak lagi perlu manakala kita menggunakan kurma sebagai bagian utama dari makanan kita.

Ketika masih ditanam-pun kurma menjadi tanaman yang sangat efisien untuk mempertahankan air tanah. Bahkan ada petunjuk kuat bahwa tanaman kurma yang pada umumnya berumur sangat panjang itu – bisa ratusan tahun, dapat menghadirkan mata air tersendiri di tempat tumbuhnya .

Pada umumnya ayat-ayat di Al-Qur’an yang bercerita tentang air yang turun dari langit kemudian tanaman tumbuh dari padanya, demikian pula tentang kurma. Tetapi setidaknya ada dua ayat yang menyebutkan sebaliknya, yaitu air didatangkan atau dipancarkan setelah ada pohon kurma.

“Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air” (QS 36 :34)

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan". Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.” (QS 19 : 23-24)

Dengan dua ayat tersebut di atas, pemahaman kita tentang oasis – mata air di pada pasir akan bisa berbeda. Pada umumnya orang beranggapan bahwa karena ada oasis kemudian kurma tumbuh di sekitarnya. Padahal bisa juga sebaliknya, karena ada sekumpulan pohon kurma yang hidup di suatu daerah dalam jangka panjang, mata air-pun kemudian muncul di tempat tersebut.

Artinya dengan tanaman pohon kurma yang nantinya insyaAllah kita tebarkan di Jakarta misalnya, khususnya di pantai utara Jakarta, bukan hanya Jakarta tidak jadi tenggelam karena keberadaan kurma akan menahan instrusi air laut - tetapi ketersediaan air tawar bersih bagi masyarakat Jakarta di generasi anak cucu kita – bisa jadi akan tertolong dengan banyaknya pohon-pohon kurma ini. Bandingkan ini misalnya dengan biaya yang sangat besar bila pemerintah DKI harus membuat dan merawat dam-dam penampungan air dalam jangka panjang.

Yang masih mengganjal di kita barangkali adalah keyakinan bahwa apakah benar kurma akan tumbuh dan berbuah di negeri ini ? untuk menjawab keraguan inilah melalui tulisan kami sebelumnya tersebut di atas – kita undang sukarelawan yang mau melakukan percobaan bersama kami untuk jangka yang panjang.

Upaya-upaya ini memang akan melelahkan dan merupakan perjalanan yang panjang, namun bayangkan reward-nya bagi masyarakat anak cucu kita puluhan atau bahkan ratusan tahun kedepan. Tiga kebutuhan pokok mereka - yang menjadi alasan perang bangsa-bangsa modern sampai jaman kita ini - yaitu Food, Energy and Water (FEW) dapat diatasi antara lain melalui kontribusi pohon kurma ini.

Ilmu kita belum cukup dan bahkan tidak akan pernah cukup, maka kita serahkan kepadaNya Yang Maha Mengetahui dan Maha Perkasa untuk menuntun kita pada jalan dan petunjukNya. Agar kurma-kurma yang kita tanam berbuah dan mendatangkan keberkahan, agar bumi mengeluarkan rezeki yang masih tersimpan di dalamnya dan agar langit menurunkan rezeki yang masih tertahan di atasnya.

“Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (14:25)

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (57:4)

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas:


Description: Food, Energy & Water ( FEW )
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Food, Energy & Water ( FEW )
SelengkapnyaFood, Energy & Water ( FEW )

Resonansi Ketahanan Pakan, Air dan Energi

Posted by Noer Rachman Hamidi

Ketika Indonesia merdeka tahun 1945, peta Palestina masih hijau karena mayoritas tanahnya masih dikuasai bangsa Palestina sendiri. Dua tahun kemudian 1947, peta itu menjadi kurang lebih separuh hijau dan separuh putih – karena secara luar biasa cepat Yahudi dapat menjajah tanah-tanah bangsa Palestina. Kini 65 tahun kemudian, daerah hijau itu tinggal titik-titik yang sangat kecil dibandingkan daerah putih yang merupakan jajahan Yahudi.

Bukan hanya secara politik dan militer saudara kita bangsa Palestina didzalimi secara luar biasa oleh Yahudi, tetapi sumber-sumber kebutuhan pokoknya berupa pangan, energi dan air juga dalam genggaman Yahudi.

Penuturan teman-teman team Sahabat Al-Aqsha yang beberapa bulan lalu terjun langsung ke Gaza, mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi bangsa Palestina kini sungguh memprihatinkan. Di satu sisi tentu mereka tidak rela diteror dan dihujani bom setiap waktu oleh penjajahnya yaitu Israel, tetapi di sisi lain dalam mencukupi kebutuhan pokoknya mereka mau tidak mau harus mengkonsumsi berbagai produk Israel. Sampai ke warung-warung kecil di pemukiman rakyat Gaza-pun mayoritas produk yang dijual adalah produk Israel.

Resonansi Ketahanan Pakan, Air dan Energi
Peta Wilayah Palestina 1946-2010
Mata air yang masih ada di wilayah kekuasaan rakyat Palestina banyak yang diracuni sehingga tidak lagi layak minum, pemenuhan kebutuhan air menjadi semakin dalam genggaman Israel. Apalagi kebutuhan energi seperti listrik dan bahan bakar, karena lagi-lagi dalam genggaman Israel supply-nya ke bangsa Palestina menjadi suka-suka mereka. Listrik mati berhari-hari dan antrian bbm yang mengular menjadi pemandangan sehari-hari di Gaza.

Walhasil kita bisa melihat korelasi yang begitu nyata dari perubahan warna peta tersebut di atas – yang merepresentasikan penguasaan lahan -  dengan ketersediaan kebutuah hidup manusia yang sangat mendasar yaitu pangan, energi dan air.

Kita yang berada di Indonesia memang belum menghadapi situasi seperti yang dihadapi oleh saudara-saudara kita bangsa Palestina. Tetapi trend ke arah sana bukannya tidak ada.

Coba Anda berjalan di seputar jalan-jalan utama Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, juga di kota-kota penyangga kota utama seperti  daerah Jabodetabek, Siapa yang menguasai lahan-lahan paling luas di daerah perkotaan ini ?.

Kemudian Anda juga jalan-jalan ke daerah pedalaman Sumatra,  Kalimantan, Papua dlsb. siapa yang menguasai lahan-lahan paling luas di sana ?. Saya pernah mendengar langsung dari seorang mantan menteri di awal era reformasi yang menuturkan bahwa seorang pengusaha saja di negeri ini bisa memiliki HPH yang luasnya melebihi kerajaan Inggris  !.

Yang dihadapi rakyat Indonesia memang bukan Yahudi secara fisik, tetapi bisa jadi adalah Yahudi secara karakter. Korporasi-korporasi besar yang menguasai lahan dan sumber alam kemudian mengeksploitasinya untuk keuntungan maksimal kelompok atau organisasinya sendiri. Membuat rakyat yang mayoritas ini tergantung pada produk barang dan jasa yang berada dalam genggaman tangan mereka.

Siapa yang memegang kendali atas sumber-sumber pangan, energi dan air adalah siapa yang menguasai lahan. Maka penguasaan lahan oleh rakyat banyak adalah mutlak perlu untuk melindungi kepentingan rakyat ini atas ketersediaan pangan, energi dan air  dalam jangka panjang.

Program KKP (Kepemilikan Kebun Produktif) untuk masyarakat luas yang kini tengah melalui proses seleksi lahan-lahan yang akan menjadi target project KKP – hanyalah upaya kecil untuk melawan trend penguasaan lahan secara besar-besaran oleh korporasi raksasa.

Beberapa ratus hektar lahan yang sedang kami perjuangkan di daerah Jabodetabek misalnya, daerah tersebut sudah terkepung oleh penguasaan lahan ribuan hektar di sekitarnya yang sudah dikuasai oleh 2-3 korporasi raksasa.

Namun kita tidak perlu berkecil hati, bila lontaran-lontaran batu kerikil anak-anak kecil Palestina bisa membuat tank-tank Israel berbalik arah ; lontaran-lontaran kecil kita seperti KKP ini juga kita harapkan berbuah yang sama – agar korporasi-korporasi besar tersebut ada yang menghentikan langkahnya.

Lebih dari itu Uswatun Hasanah kita telah memberikan tuntunannya dalam mengelola kebutuhan pokok umat ini :
“Orang-orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput, air dan api” (Sunan Abu Daud, no 3745). 
Padang rumput mewakili lahan untuk sumber-sumber pangan, air adalah pengelolaan sumber-sumber air, dan api adalah pengelolaan sumber-sumber energi.

Dengan bersyirkah kita bisa menguasai kembali lahan-lahan yang mencapai skala ekonomis untuk pertanian, peternakan, perkebunan dlsb. Dengan mengamankan lahan agar tetap menjadi lahan pertanian dan perkebunan, secara tidak langsung kita juga mengamankan sumber-sumber air.

Energi terbarukan masa depan juga sangat erat kaitannya dengan penguasaan lahan ini. Selain energi bisa diproduksi dari hampir seluruh tanaman-tanaman yang menghasilkan pati, serat atau gula, produksi energi dari sinar matahari-pun butuh lahan yang luas untuk menaruh solar panel-nya.

Maka sebelum penguasaan lahan oleh umat ini menjadi tinggal seperti titik-titik hijau yang dikepung oleh hamparan putih - seperti pada peta Palestian tersebut di atas, kita memang harus mulai berbuat. Kita harus mulai ‘melempar batu kecil’ untuk menghentikan laju tank-tank besar yang melumat bumi dan mengeksploitasinya hanya untuk kelompok mereka sendiri. Bila kita lakukannya bersama-sama  (ber-syirkah), InsyaAllah kita bisa !.

www.rumah-hikmah.com

Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas:

Description: Resonansi Ketahanan Pakan, Air dan Energi
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Resonansi Ketahanan Pakan, Air dan Energi
SelengkapnyaResonansi Ketahanan Pakan, Air dan Energi